Lead dan lag adalah durasi yang diberikan pada hubungan antar aktivitas dalam jadwal proyek.
Lead umumnya diberikan pada aktivitas dengan hubungan Finish to Start, sedangkan lag diberikan pada semua jenis hubungan, seperti Finish to Start, Start to Start, Finish to Finish, maupun Start to Finish.
LEAD
Pada Lead sejumlah waktu diberikan antar aktifitas agar dapat berjalan secara paralel sesuai dengan waktu lead yang diberikan.
Sebagai contoh, Anda membuat jadwal untuk pekerjaan Site Clearance yang menjadi aktivitas pendahulu pekerjaan Excavation atau galian.
Namun, pekerjaan Excavation dapat dimulai ketika pekerjaan Site Clearance telah mencapai 75% tanpa harus menunggu pekerjaan pembersihan selesai.
Hubungan pekerjaan pada contoh di atas dapat dilihat pada bar chart berikut:

Pada bar chart di atas, dapat dilihat bahwa aktivitas Site Clearance dan aktivitas Excavation memiliki hubungan Finish to Start.
Misal aktifitas Site Clearance memiliki durasi 100 hari. Pekerjaan Excavation dapat dimulai ketika Site Clearance telah mencapai progres durasi 75% atau 75 hari.
Dalam contoh ini, 25 hari sebelum Site Clearance selesai, aktivitas Excavation sudah mulai. Dengan kata lain, hubungan tersebut memiliki lead selama 25 hari.
Contoh Lead
Contoh lain misalnya pekerjaan pasangan bata pada sebuah bangunan membutuhkan waktu 90 hari. Setelah pasangan bata, pekerjaan berikutnya adalah finishing dinding.
Hubungan yang digunakan pada kedua aktivitas adalah Finish to Start.
Ketika pekerjaan pasangan bata telah berjalan 60%, pekerjaan finishing dinding dimulai tanpa harus menunggu pekerjaan pasangan bata selesai.
Baca juga apa itu float?
LAG
Lag adalah sejumlah waktu tunggu yang diberikan sebelum aktivitas lainnya dikerjakan.
Lag merupakan kebalikan dari lead.
Lag dapat terjadi pada semua jenis hubungan aktivitas, yaitu Start to Start, Finish to Start, Finish to Finish, maupun Start to Finish.
Misal aktivitas A memiliki durasi 30 hari. Sebelum aktivitas berikutnya, aktivitas B, dimulai, terdapat waktu tunggu selama 5 hari. Maka, dapat dikatakan hubungan tersebut memiliki lag selama 5 hari.
Skenario di atas digambarkan pada bar chart berikut:

Pekerjaan finishing dinding membutuhkan waktu 30 hari. Setelah itu, sebagian dinding perlu dipasang wallpaper sesuai permintaan owner. Namun, pekerja perlu menunggu selama lima hari sampai dinding benar-benar kering.
Waktu tunggu selama lima hari tersebut merupakan lag antara pekerjaan finishing dinding dan pemasangan wallpaper.
Baca juga tentang apa itu milestone dalam manajemen proyek?
Contoh Lag
Contoh lain yang berkaitan dengan lag adalah pekerjaan plesteran dinding selama tujuh hari. Setelah itu, pekerjaan akan dilanjutkan dengan pengecatan.
Sebelum pengecatan dimulai, terdapat waktu tunggu selama 3 hari. Waktu tunggu selama tiga hari ini merupakan lag yang tidak dapat dikurangi atau dipercepat.
Jika mengacu pada aturan DoD, penggunaan lag sebaiknya tidak lebih dari lima hari. Jika suatu aktivitas memiliki lag yang cukup panjang, Anda dapat menambahkan aktivitas baru di antara dua aktivitas tersebut agar hubungan antar pekerjaan tidak terlihat seperti jeda (waktu tunda) yang tidak diketahui kejelasannya.
